Forensik Bencana: Memahami Akar Risiko untuk Mengurangi Dampak di Masa Depan

“Dengan mempelajari hubungan antara bahaya, risiko, dan bencana, kita dapat lebih memahami bagaimana mengurangi risiko bencana agar bahaya berikutnya tidak berubah menjadi bencana.”

Sebuah gambar sederhana—bersepeda saat banjir—mewakili realitas kehidupan masyarakat yang terpapar bencana. Namun di balik itu, terdapat kompleksitas penyebab dan faktor risiko yang harus diurai. Analisis forensik bencana hadir untuk menggali akar penyebab dan penggerak risiko yang berkontribusi terhadap terjadinya bencana. Pendekatan ini bersifat komprehensif, melibatkan lintas disiplin dan aktor, serta mempertimbangkan seluruh dimensi risiko, baik dari sisi lingkungan maupun sosial-ekonomi.

Melalui identifikasi akar masalah, analisis forensik membantu dalam merancang strategi yang lebih tepat untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Pendekatan Forensik Bencana

Analisis forensik menyoroti intensitas, distribusi, dan dampak dari peristiwa pemicu bencana. Penilaian terhadap kerentanan yang telah ada sebelumnya, kondisi paparan, serta penyebab langsung dari kerusakan memberikan wawasan penting bagi upaya pengurangan risiko.

Penting pula untuk memahami bagaimana proses pembangunan berkontribusi terhadap risiko bencana. Ini meliputi dinamika populasi, ekspansi wilayah, serta pentingnya pemanfaatan lahan yang aman dan berkelanjutan. Efektivitas regulasi zonasi, pengendalian tata guna lahan, dan ketentuan infrastruktur juga menjadi sorotan, di samping peran struktur sosial-ekonomi, kemiskinan, dan degradasi lingkungan dalam memperburuk risiko bencana.

Langkah-Langkah Analisis Forensik

Berikut adalah panduan pertanyaan yang disusun berdasarkan metodologi FORIN (Forensic Investigations of Disasters), yang terdiri dari tiga langkah utama:

Langkah 1 – Memahami “DNA Bencana”

Analisis dimulai dengan memahami faktor bahaya, paparan, dan kerentanan yang membuat bencana ini unik dan signifikan. Pertanyaan-pertanyaan kunci:

Apa yang terjadi? (Bahaya)

  • Apa pemicu awal peristiwa?

  • Apakah peristiwa utama memicu peristiwa sekunder? Contoh: gempa memicu longsor atau jebolnya bendungan yang menyebabkan banjir.

Di mana kerusakan terkonsentrasi? (Paparan)

  • Bagaimana elemen sosial dan lingkungan terpapar?

  • Bagaimana evolusi paparan seiring pembangunan terencana maupun tidak terencana?

  • Apakah regulasi zonasi, kontrol tata guna lahan, dan kode bangunan sudah sesuai dengan tingkat risiko?

  • Apa dampak deforestasi, desain kota, atau perubahan iklim terhadap tingkat paparan?

  • Bagaimana struktur sosial-ekonomi masyarakat yang terdampak?

  • Bagaimana distribusi kerusakan menurut wilayah, kelompok sosial, dan jenis infrastruktur?

  • Apakah kawasan yang lebih aman telah dihuni sebelum wilayah rawan bencana?

  • Apakah hukum lingkungan telah mempertimbangkan aspek bahaya dan kerentanan?

  • Apakah ada korelasi antara paparan terhadap bahaya dan tingkat kemiskinan?

  • Bagaimana faktor risiko kronis seperti pengangguran, kesehatan buruk, atau kekerasan sosial memperparah dampak bencana?

  • Apakah terdapat regulasi yang tepat di tingkat nasional dan lokal (kode bangunan, penegakan hukum)?

  • Apakah tersedia dan diwajibkan asuransi atas kerugian atau tanggung jawab?

  • Apakah Manajemen Risiko Bencana telah terintegrasi dalam kebijakan lain seperti perencanaan kota, pengelolaan lingkungan, dan asuransi?

  • Apakah terdapat kapasitas penelitian dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran risiko?

Siapa yang paling terdampak dan mengapa? (Kerentanan)

  • Bagaimana pertumbuhan dan persebaran penduduk di masa lalu berkontribusi pada bencana?

  • Apa peran degradasi lingkungan dan hilangnya jasa ekosistem?

  • Apa dampak kemiskinan dan ketimpangan pendapatan?

Apa yang tetap tangguh (resilien)?

  • Unsur kelembagaan dan tata kelola apa yang mendukung ketangguhan?

Hasil Langkah 1:
Identifikasi “DNA Bencana”—yaitu titik-titik infleksi unik yang membuat bencana ini terjadi. Menyertakan narasi dan cerita dari masyarakat terdampak dapat memperkaya analisis dan menjadi pengingat penting dalam merumuskan aksi pengurangan risiko.

Langkah 2 – Tren Masa Depan

Langkah ini melihat lebih dalam terhadap DNA bencana yang telah diidentifikasi dan memproyeksikan tren ke depan hingga tahun 2050.

Contoh: jika urbanisasi dan permukiman informal menjadi kontributor utama kerusakan akibat banjir, maka perlu diprediksi bagaimana tren urbanisasi dan pertumbuhan permukiman informal di masa depan.

Hasil Langkah 2:
Analisis prospektif yang mengidentifikasi area risiko saat ini yang kemungkinan akan meningkat di masa mendatang.

Langkah 3 – Pembelajaran Forensik

Fasilitasi diskusi multipihak untuk mereview dan menyempurnakan hasil analisis. Dalam diskusi ini, dirumuskan kebijakan dan langkah praktis secara kolaboratif untuk mengurangi risiko dari setiap “DNA bencana” yang telah ditemukan, dengan mempertimbangkan dampak nyata dan skenario masa depan.

Penutup

Analisis forensik bencana bukan sekadar mengurai peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi alat penting untuk mencegah bencana masa depan. Dengan memahami hubungan antara bahaya, kerentanan, dan paparan, serta faktor-faktor pembangunan yang menyertainya, kita dapat merancang sistem yang lebih tangguh dan adil bagi seluruh masyarakat.

“Bencana bukanlah semata-mata akibat alam, melainkan cermin dari bagaimana kita membangun dan menjaga kehidupan kita bersama.”


Sumber: https://www.undrr.org/disaster-forensics