Negeri di atas Tanduk Print
User Rating: / 0
PoorBest 
Written by Admin PSB   

Jauh di bawah tanah yang kita pijak sekarang, ada banyak getaran, guncangan, yang tanpa kita sadari aktivitasnya terjadi setiap waktu. Suatu lempengan tipis dan keras bergerak terhadap lempengan lain. Gerakan itu terus terjadi sejak bumi lahir hingga detik sekarang ini.


Sekarang, kita yang diam di atas tanah air ini, seperti tidak populer membicarakan, merumuskan, atau sekadar menyadari hidup dalam jeratan sabuk gempa. Di bawah kita terhampar batas lempeng India-Australia yang setiap waktu menghujan ke bawah lempeng Eurasia. Sehingga wajar jika Bukit Barisan di sepanjang Sumatera, yang memang terbentuk oleh pergerakan dua lempeng tersebut, sering di guncang gempa dan pantai baratnya tersapu tsunami. Demikian juga sepanjang Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, selain gempa dan tsunami, aktivitas gunung berapi meningkat seiring meningkatnya magma akibat pergerakan lempeng tersebut. Belum lagi jika kita berpijak di timur Indonesia, lempeng tektonik sekaligus bertemu, yaitu lempeng Pasifik dengan lempeng Australia. Ada lagi yang menyebutkan ditambah dengan mendekatnya lempeng Filipina.


Kita, manusia-manusia yang hidup di tengah peristiwa geologi tersebut, memiliki persepsi beragam. Persepsi lahir dari nilai-nilai sosial dan politik negeri ini. Nilai-nilai tradisional tentu telah lama dianut masyarakat yang hidup di kawasan gunung berapi dan rawan gempa. Misalnya bagaimana membaca gejala alam dan cara membuat rumah panggung dari kayu yang ternyata tahan gempa. Nilai-nilai itu juga melahirkan mitologi atas ketidakkuasaan diri terhadap peristiwa dari Yang Maha Kuasa.


Sedangkan nilai-nilai baru terus berupaya menciptakan sistem mitigasi yang modern meskipun terseok-seok dibombardir carut-marut politik negeri. Persoalan mengupayakan adanya sistem mitigasi yang cocok, membangun persepsi yang baik terhadap suatu bencana geologi kalah populer dibanding mengurusi partai politik, mengamankan jabatan dan kekuasaan.


Karena kita terlena dalam kemelut politik dan melupakan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan. Maka seharusnya kita tidak menyalahkan masyarakat yang bersikap pasrah terhadap maut, memandang takdir, ketika gunung berapi meletus, gempa mengguncang dan tsunami menyapu.


***
Jauh dari hiruk-pukik ibu kota Jakarta, satu tim yang terdiri dari wartawan, ahli geologi, arkeologi, botani serta antropologi, mengintensifkan diri dalam sebuah perjalanan yang dinamai Ekspedisi Cincin Api Kompas.


Ekspedisi dilakukan selama satu tahun lamanya. Sejak Juni 2011, tim ekspedisi melakukan perjalanan secara bertahap ke sejumlah kawasan gunung berapi dan patahan yang masuk dalam zona cincin api (ring of fire) di Indonesia. Telah dilakukan perjalanan ke Gunung Tambora, lalu Danau Toba, Gunung Sibayak, Gunung Sinabung, dan baru saja selesai yaitu ke Gunung Krakatau.


Tulisan kecil di atas sekadar catatan awal dalam thread di forum ini untuk menerima interaksi, bahan diskusi, berbagi pengalaman, wawasan dan pengetahuan dari berbagai macam sudut pandang, yang tentu bermanfaat memperkaya hasil ekspedisi yang disajikan berupa reportase lengkap dalam edisi khusus di Harian Kompas, Kompas.com dan Kompas TV dimulai tanggal 14 September 2011. Keterangan lebih lanjut klik disini.

Sumber; forum.kompas.com

Last Updated on Tuesday, 08 May 2012 03:10