Calendar

Last month March 2017 Next month
S M T W T F S
week 9 1 2 3 4
week 10 5 6 7 8 9 10 11
week 11 12 13 14 15 16 17 18
week 12 19 20 21 22 23 24 25
week 13 26 27 28 29 30 31
Members : 7758
Content : 289
Web Links : 4
Content View Hits : 191321
We have 55 guests online
Bahaya Banjir Lahar PDF Print E-mail

Salah satu dampak dari meningkatnya curah hujan di kawasan selatan Indonesia adalah ancaman banjir lahar Merapi. Beberapa hari terakhir banjir lahar kembali menerjang sejumlah wilayah di Muntilan, Kabupaten Magelang. Ancaman banjir lahar harus tetap diwaspadai, mengingat curah hujan tinggi masih berpeluang terjadi selama periode puncak musim hujan saat ini. Untuk itu, khususnya masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Merapi perlu memahami karakteristik bahaya banjir lahar yang bersifat merusak.

Gambar 2. Sedikitnya lima jembatan, satu bendungan, dan empat rumah di Kabupaten Magelang rusak akibat diterjang banjir lahar dingin Merapi

Ada beberapa bahaya yang ditimbulkan sebagai dampak banjir lahar yang memiliki sifat merusak. Karakteristik aliran lahar yang melaju cepat dengan tenaga besar ini disebabkan karena Merapi merupakan strato volcano yang memiliki lereng sangat curam. Kombinasi aliran material vulkanik seperti abu gunungapi, kerikil, kerakal, bongkahan batu dengan lereng curam menjadikan aliran banjir lahar juga dikontrol oleh percepatan gaya gravitasi bumi.

 

 

Ancaman sekunder lahar Merapi memiliki daya rusak tinggi. Bongkahan batu-batu besar bisa terangkut aliran karena aliran lahar memiliki berat jenis yang sama besar dengan bongkahan batu yang diangkutnya. Fenomena batu-batu besar yang terbawa aliran banjir lahar ini dapat disaksikan di sepanjang kawasan banjir lahar Kali Putih, Muntilan.

Terangkutnya bongkahan batu oleh aliran lahar ini tentu saja sangat mengancam keberadaan dam dan sabo penahan banjir. Seperti halnya dua Dam Kali Apu di Kecamatan Selo yang kini sudah jebol diterjang banjir lahar, pada hari Minggu (9/1) petang.

Banjir lahar juga memicu tingginya bahaya erosi di sepanjang bantaran sungai yang dilalui banjir lahar. Meningkatnya erosi akibat banjir lahar dapat dijelaskan dengan mudah, dimana derajat kemiringan lereng pegunungan sangat mempengaruhi tegangan permukaan. Akibat kecepatan aliran permukaan yang meningkat ini maka kapasitas daya rusak banjir lahar akan menjadi semakin besar.

Energi yang timbul akibat aliran permukaan akan berubah menurut kuadrat kecepatan nya. Kapasitas pengangkutan butiran material vulkanik akan berubah dengan pangkat 5 dalam waktu dalam satu satuan dimensi. Dengan kata lain jika kecepatan aliran pemukaan menjadi 2 kali lipat, maka jumlah butiran material yang terangkut menjadi 32 kali lebih banyak.

Pada kemiringan lereng curam, mengalirnya banjir lahar ke arah dataran kaki gunung berlangsung sangat cepat. Daya kikis atau daya tumbuk arus banjir lahar terhadap tepi sungai akan semakin kuat sehingga bagian-bagian tanah pada bantaran sungai mengalami cerai berai dan terangkut aliran lahar.

Semakin besar kemiringan lereng maka akan semakin besar bantaran sungai mengalami pengikisan dan erosi. Dampaknya, pada setiap peristiwa banjir lahar ada kecenderungan tepi sungai manjadi semakin lebar, sehingga berdampak kepada rusaknya infrastruktur seperti bangunan rumah di bantaran sungai, selain itu jembatan dapat jebol akibat pondasi jembatan tergerus material lahar.

Sebagai upaya mitigasi bencana banjir lahar sederhana, kepada seluruh warga yang bermukim di bantaran sungai yang berhulu di puncak Merapi dihimbau untuk menjauhi bantaran sungai yang berhulu di puncak merapi saat terjadi hujan deras.***

oleh :Daryono SSi MSi, mahasiswa S3 Ilmu Geografi UGM, peneliti pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

sumber : http://bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Lain_Lain/Artikel/

 


Powered by Joomla!. Designed by: lonex.com value hosting Valid XHTML and CSS.