Calendar

Last month May 2017 Next month
S M T W T F S
week 18 1 2 3 4 5 6
week 19 7 8 9 10 11 12 13
week 20 14 15 16 17 18 19 20
week 21 21 22 23 24 25 26 27
week 22 28 29 30 31
Members : 8529
Content : 289
Web Links : 4
Content View Hits : 207739
We have 37 guests online
Kebakaran Hutan dan Lahan PDF Print E-mail

00 Ribu Hektar Karhutla di Sumatera Hingga Oktober 2015

30 Oktober 2015 13:0 WIB

Share
Tweet
JAKARTA - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menginformasikan bahwa lebih dari 800.000 hektar hutan dan lahan terbakar di Sumatera yang dihitung dari 1 Juli hingga 20 Oktober 2015. Kepala Bidang Lingkungan dan Mitigasi Bencana LAPAN Parwati Sofan menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, pada Jumat (30/10). Jumlah tersebut terbagi dalam kategori lahan gambut dan non gambut.
Luas lahan terbakar di Sumatera tersebut dihitung di 10 provinsi, antara lain Sumatera Selatan (359.100 ha), Riau (169.119 ha), Jambi (137.853 ha), Lampung (66.176 ha), Bangka-Belitung (48.996 ha), Sumatera Barat (21.161 ha), Bengkulu (5.805 ha), Nanggroe Aceh Darussalam 4.315 ha), Kep. Riau 2.034 ha).
Provinsi Sumatera Selatan merupakan wilayah yang hutan dan lahannya terbakar tertinggi di Sumatera. LAPAN mencatat total luas terbakar 359.100 hektar. Dari luas tersebut luas gambut terbakar 144.410 hektar dan non gambut 214.690 hektar. Penghitungan luas lahan terbakar ini berdasarkan data antar lain dari hasil pantauan dari Satelit Terra, densitas hotspot Terra-Aqua dan SNPP-VIIRS, Landsat-8, peta lahan gambut dari Kementerian Pertanian, dan peta administrasi dari Badan Informasi Geospasial.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke depan akan memberikan dampak yang lebih besar, baik sosial-ekonomi dan lingkungan. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa gambut sangat penting terhadap ekosistem lingkungan. Sutopo menggambarkan gambut sebagai spon yang mampu menampung air dan mengkontrol ekosistem. Karhutla mengakibatkan luas gambut berkurang hingga dampak lingkungan yang besar berupa terlepasnya emis gas karbondioksida. Gas karbondioksida akan menyumbang emisi gas rumah kaca yang berujung pada pemanasan global.
"Wilayah yang ekosistem hutan gambutnya terbakar akan memicu permasalahan baru. Pada saat musim kemarau, bahaya kekeringan dan karhutla akan mengancam. Musim hujan, bahaya banjir", papar Sutopo.
Secara umum, Sutopo menjelaskan bahwa karhutla di wilayah Sumatera terjadi di tiga wilayah berbeda, seperti wilayah konsesi perusahaan (kebun HTI), lahan masyarakat, dan kawasan hutan atau taman nasional. (phi)
Sumber: bnpb.go.id

 

 


Powered by Joomla!. Designed by: lonex.com value hosting Valid XHTML and CSS.